Keluarga Antasari Tersinggung soal Adegan Syur

Kompas.com - 19/01/2010, 16:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keluarga terdakwa mantan Ketua KPK, Antasari Azhar, mengaku terhina saat jaksa penuntut umum (JPU) membacakan tuntutan kepada Antasari. Keluarga tersinggung perihal adegan seronok yang diduga dilakukan Antasari dengan Rani Juliani di Kamar 803 Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan.

"Saya merasa terhina dengan tuntutan yang ada pelecehan," ucap adik Antasari, Asmuliati Azhar, seusai mendengar tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2010). Ia datang ditemani adik Antasari yang lain, Asnawati Azhar.

Dari pantauan Kompas.com saat pembacaan tuntutan, JPU telah membacakan adegan di dalam kamar hotel hingga empat kali. JPU membacakan secara gamblang adegan syur antara Antasari dan Rani.

Asmuliati berpendapat, kakaknya tidak seperti yang diungkapkan oleh JPU. Menurut dia, latar belakang keluarganya tak pernah melakukan perbuatan cela seperti itu. "Terus terang saja tidak sekotor itu. Di Palembang semua tahu bagaimana background keluarga kami. Kalau orangtua saya masih hidup, (dia) akan menangis," lontar dia.

Mengenai tuntutan hukuman mati yang dijatuhkan oleh JPU kepada Antasari, ia mengaku shock. Tuntutan itu di luar perkiraan keluarga besar Antasari. "Sangat kejam, jauh dari perkiraan. Saya shock tadi. (Tuntutan) tidak sesuai dengan apa yang ada di persidangan. Saya tidak pernah absen dalam sidang," ucap dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau